Awali Hidup Ini Dengan Membaca Basmallah
Semoga Amal Ibadah Kita Diterima Allah S.W.T .....Amien...

link

Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Maret 2015

Menjadi Anshar





Warga Madinah di masa Nabi Muhammad saw adalah sebaik-baik penduduk negeri. Mereka tidak cuma memberi sedekah kepada kaum Muhajirin yang fakir, tidak bermodal bisnis, dan kelaparan. Bahkan, membagi sebagian rumah, tanah, dan perabotan mereka kepada saudara seiman itu. Malah, bila Muhajirin mau, yang lebih baik bagi mereka.

Benarlah firman-Nya, ''Dan mereka [kaum Anshar] mengutamakan [kaum Muhajirin] dari diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan [apa yang mereka berikan]'' (QS Al-Hasyr: 9). Karenanya, kaum Anshar telah diridai Allah dan telah disediakan surga (QS At-Taubah: 100). Tiada kemenangan yang lebih besar daripada selamat dari neraka, masuk surga, dan diridhai-Nya.

Sesungguhnya, sejak Futuh(pembebasan) Mekkah, maka hijrah seperti yang dilakukan kaum Muhajirin telah berakhir. Sabda Beliau, ''tidak ada lagi hijrah setelah futuh.'' (HR Bukhari-Muslim). Apalagi, dakwah telah tersebar dan umat Islam telah ada dimana-mana. Maka, agar kemuliaan yang diterima kaum Anshar juga kita peroleh, kita perlu berupaya menjadi Anshar diin Allah.

Dasar pemikiran yang selama ini terkungkung ideologi jahiliyah dan sistem sekuler harus diubah. Standar penilaian bahwa sesuatu itu baik atau buruk sepenuhnya merujuk Allah, meski mayoritas warga dunia lainnya menilai sebaliknya. Interaksi antarwarga didasari keimanan, yang memancarkan persaudaraan, sikap saling menyayangi dan menolong bagaikan mencintai diri sendiri. Sungguhpun Nabi mengakui perbedaan latar belakang suku, bangsa, asal daerah, dan lain-lain, tetapi itu tidak dijadikan sekat pembatas, apalagi basis loyalitas.

Islam-lah yang melenyapkan perselisihan, kedengkian, bahkan peperangan antara Bani Aus dan Khazraj. Sesuatu yang kini justru terjadi di Aceh, jazirah Arab, dan lain-lain. Mereka yang tadinya miskin, termasuk kaum Anshar, setelah Nabi datang membawa Islam dan bersedianya mereka berkorban demi kejayaan kalimah Allah, menjadi kaya dan mampu menyantuni pendatang baru. Kaum Yahudi, yang awalnya menguasai pasar jazirah Arab dengan praktik oligopoli, rente, dan monopoli, tersingkirkan, sehingga konsumen mendapat keadilan. Kejayaan dunia dan akhirat inilah yang harus diraih Muslim Indonesia dengan menjadi Anshar Abad XXI dalam penegakan Islam dan penyebaran rahmatan lil alamiin

Jumat, 12 Juli 2013

Mengharapkan yang Terbaik


Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari-Muslim dari Anas, Rasulullah SAW bersabda, ''Tidak boleh seseorang mengharap-harapkan kematian karena kesulitan hidup yang dihadapinya. Dan jika tidak tahan menghadapi kesulitan itu, maka hendaknya ia berkata, 'Ya Allah, hidupkan aku jika hidup itu lebih baik bagiku, dan matikan aku jika kematian itu lebih baik bagiku'.'' 

Sebagaimana telah sama-sama kita sadari bahwa kematian itu adalah sesuatu yang bersifat pasti dan tetap, tidak bisa dimajukan dan tidak pula bisa dimundurkan, walau hanya sesaat. Karena itu orang-orang yang beriman tidak boleh takut menghadapi kematian atau sebaliknya tidak boleh terlalu mengharapkannya, apalagi hanya karena menghadapi kesulitan dan beban hidup. Allah SWT berfirman dalam QS Al A'raaf 34, ''Tiap-tiap umat ada ajalnya. Apabila datang ajal mereka, maka tidak dapat mengundurkannya walaupun sesaat, dan tidak dapat pula memajukannya.'' 

Banyak yang berkeyakinan bahwa kesulitan hidup yang berat harus diakhiri dengan kematian, karena kematian dianggap akan mampu mengakhiri penderitaan itu. Padahal, kematian bisa jadi merupakan awal dari kesulitan yang sesungguhnya, karena setiap manusia harus mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan yang telah dilakukannya di dunia ini. 

Allah SWT berfirman dalam QS Azzalzalah 7-8, ''Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zharrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zharrah pun niscaya dia akan melihat balasannya pula.'' 

Kesulitan dan penderitaan sesungguhnya merupakan pakaian dari kehidupan yang akan selalu melekat pada setiap manusia, sama halnya dengan kemudahan dan kesenangan. Jika seseorang sabar di dalam menghadapi penderitaannya, tetap tegar dan istiqomah di dalam melakukan ikhtiar dan amal saleh, selalu mengembalikan persoalan pada Allah SWT dengan banyak bersujud dan berdoa, maka akhir dari penderitaan dan kesulitan itu adalah kebaikan dan kemudahan. Allah SWT berfirman dalam QS Alam Nasyrah 5-6, ''Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.'' 

Dalam hadis di atas Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa berpikir positif, optimistik, dan memohon yang terbaik dari setiap persoalan yang dihadapi dan dari kehidupan serta kematian. Hidup yang penuh dengan kebaikan dan kematian yang diakhiri dengan kebaikan itulah yang disebut dengan khusnul khotimah, dan itu pula yang harus menjadi sikap dan pandangan hidup setiap orang yang beriman. Putus asa dan frustrasi tidak ada dalam kamus kehidupannya. Allah SWT berfirman dalam QS Yusuf 87, ''... dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan orang-orang yang kafir.'' Wallahu a'lam bis-shawab.


Menggunakan Akal




Berasal dari bahasa Arab, 'aqala, akal dalam bahasa Indonesia berarti pikir atau berpikir. Akal adalah pemberian Allah SWT kepada setiap manusia sebagai kekuatan yang memiliki kemampuan menakjubkan. Dengan dukungan pancaindera, akal dapat menimbang antara yang baik dan buruk. Dapat mengenal mana yang membahagiakan dan yang mencelakakan. Bahkan, dengan mengerahkan kemampuan akal, manusia telah berhasil menemukan dan mewujudkan kemajuan di bidang teknologi yang sangat mengagumkan. 

Islam adalah agama yang memberikan penghargaan tinggi terhadap akal. Kata Rasulullah SAW, ''Agama ialah penggunaan akal, tiada arti agama bagi orang yang tidak mempergunakan akalnya.'' Alquran menyebut kata akal lebih dari lima puluh kali, semua menunjukkan perintah bagi manusia agar mau mempergunakan akalnya. Firman-Nya, ''Mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar akan bertemu dengan Tuhannya.''(Ar Rum: 8). 

Manusia berakal berpandangan jauh. Bertindak sempurna dan tidak gegabah. Ia yakin kebenaran janji Allah. Sebab itu amal karyanya disesuaikan dengan janji tersebut. Dengan menggunakan akal, manusia mampu membuat kreativitas, pembaruan, dan perubahan-perubahan yang fantastik dan menakjubkan di dalam kehidupannya. 

Dengan menggunakan akal, kelak manusia akan menempati tempat yang terhormat dan mulia. Manusia yang lalai akan jatuh ke tempat yang tercela dan hina. Rasulullah SAW bersabda, ''Orang yang berakal ialah yang dapat menundukkan nafsunya untuk persediaan sesudah mati. Dan, orang yang lemah ialah yang menuruti kehendak nafsunya semata-mata, sedangkan ia mengharapkan kepada Allah berbagai-bagai pengharapan.'' (HR Tarmizi). 

Hasil pertimbangan akal manusia yang sempurna dapat diikuti oleh manusia lain. Dipergunakan sebagai petunjuk dan pedoman. Buah pikirannya dimintakan dalam sesuatu persoalan hidup dan masalah yang sedang dihadapi. Hidup ini penuh dengan problema. Masalah demi masalah menanti penyelesaian. Dalam akal sempurna banyak petunjuk untuk mendapatkan neraca keadilan. 

Harkat dan kemuliaan manusia dengan sarana akal sebagai karunia-Nya, akan tetap terjaga dengan baik dan utuh selama dia tawajjuh, tafakkur, tawadhu, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman, ''Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kebesaran Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang orang yang lalai.''(Al A'raaf: 179). 

Semoga kita bisa mempergunakan akal dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan perintah-Nya. Wallahu a'lam

Jumat, 08 Maret 2013

Keadilan dan Hukum


Salah satu prioritas utama pemerintah yang baru saja dilantik adalah melawan korupsi dengan melaksanakan keadilan bidang hukum semaksimal mungkin. Tidak diragukan lagi, Islam menjunjung tinggi keadilan dan persamaan ini seperti dinyatakan dalam banyak ayat Alquran dan hadis Nabi SAW, ''Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil.'' (Al-Nahl: 90). 

Nabi Muhammad SAW dalam kepemimpinannya secara cemerlang telah berhasil membangun suatu masyarakat berkeadilan, menjauhi segala bentuk dan cara-cara diskiriminasi. Dalam berbagai buku sejarah Nabi Muhammad disebutkan bahwa dalam menegakkan hukum beliau tidak membeda-bedakan antara kawan dan orang asing, yang kuat dan yang lemah, kaya dan miskin, kulit hitam dan putih. Beliau tidak membenarkan adanya hak-hak istimewa dimiliki segelintir orang, yang menjadikan mereka kebal terhadap hukum. 

Nabi pernah bersabda, ''Sesungguhnya yang merusakkan orang-orang sebelum kamu adalah apabila ada di antara mereka yang berkedudukan mencuri (korupsi), mereka membiarkan saja tanpa memberikan hukuman. Tetapi, jika yang melakukan orang kecil (rakyat jelata), mereka mengenakan sanksi hukum.'' Sabda beliau ini dikemukakan ketika ada upaya untuk membebaskan hukuman seseorang yang melakukan kejahatan, hanya karena yang bersangkutan seorang bangsawan Quraish. 

Sikap Nabi memang tidak pandang bulu, termasuk sanksi hukuman terhadap keluarganya sendiri. Seperti dinyatakan dalam sabda beliau, ''Andai kata putriku Fatimah mencuri, akan kupotong tangannya.'' 

Pernah terjadi ketika beliau menata barisan perang dalam Perang Badar, beliau mendatangi seorang prajurit yang berdiri agak ke depan dari orang lain. Rasulullah menggunakan tongkatnya untuk menekan perut orang itu agar ia mundur sedikit ke belakangan, sehingga barisan akan menjadi lurus. 

Prajurit itu berkata, ''Wahai Rasulullah, demi Allah tongkat ini menyakiti perutku, aku harus membalas.'' Rasul memberikan tongkatnya kepada prajurit itu dan membuka baju di bagian perutnya seraya berkata, ''Balaslah!'' Prajurit itu maju ke depan dan mencium perut Nabi. ''Aku tahu bahwa aku akan terbunuh hari ini. Dengan cara ini aku ingin menyentuh tubuhmu yang suci.'' Belakangan ia menghambur ke depan dan gagah menyerang musuh dengan pedangnya hingga ia syahid. 

Persamaan dan keadilan dalam Islam, tidak hanya sebatas yang ditetapkan dalam UU, tetapi juga mencakup persamaan di hadapan Allah. Seperti ditegaskan Allah dalam firman-Nya, ''Yang termulia di antaramu di sisi Allah, ialah orang yang lebih bertakwa.'' (Al-Hujurat: 13). 

Pernah suatu ketika Umar Bin Khattab menghadiri sidang pengadilan. Begitu melihat kedatangan Khalifah Umar, kadi (hakim) yang memimpin sidang menunjukkan rasa hormat secara berlebihan padanya. Kepada sang hakim Umar mengatakan, ''Bila Anda tidak mampu memandang dan memperlakukan Umar dari orang biasa, sama dan sederajat, Anda tidak pantas menduduki jabatan hakim.'' 

Ali bin Abi Thalib, menantu Nabi, juga menentang keras segala bentuk diskriminasi hukum. Pernah suatu ketika ia memprotes seorang hakim, karena dia dipanggil dengan gelar Abul Hasan. Sementara lawannya disebut dengan sebutan biasa. Karena itu, dalam masa pemerintahan baru sekarang ini, di mana banyak harapan rakyat tertumpu, jangan lagi ada diskriminasi di bidang hukum dan keadilan. Wallahu a'lam.

Iman dan Tekad Perubahan


Iman dan Tekad Perubahan 


Dalam Alquran, Allah SWT berfirman, "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepada kamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, 'kapankah datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah pertolongan Allah itu sangatlah dekat." (QS 2: 214). 

Dari ayat tersebut kita bisa memahami, bahwa mendapatkan surga (kebahagiaan) tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Berhadapan dengan berbagai cobaan, malapetaka, dan kesengsaraan menjadi sesuatu yang pasti dihadapi untuk mendapatkan surga itu tadi. Sedemikina beratnya rintangan yang harus dihadapi untuk mendapatkan surga, sampai dari mulut seorang Rasul pun keluar kalimat, "kapankah datangnya pertolongan Allah?" Tapi Allah menegaskan bahwa pertolongan-Nya amatlah dekat. 

Sejiwa dengan ayat di atas, Allah SWT berfirman, "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: 'kami telah beriman', sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (QS 29: 2-3). 

Ayat tersebut sangatlah terasa dalam diri kita, contoh kecil dalam kehidupan sehari-hari ketika dalam hati timbul tekad untuk berubah ke arah yang lebih baik, maka permasalahan tidak berhenti sampai di situ. Ketika timbul tekad perubahan, pada saat itu juga di hadapan kita telah siap berbagai macam tantangan dan godaan yang siap menyeret kita untuk kembali kepada keadaan buruk itu lagi. 

Namun, walaupun demikian bukan berarti kita akan bersikap takut dan pesimis untuk melakukan perubahan. Ingatlah bahwa Allah SWT lebih cinta kepada hamba-Nya yang berusaha melakukan perubahan walaupun ia gagal daripada seorang hamba yang tidak memiliki usaha sama sekali. Begitu juga dalam lingkup yang lebih besar yaitu umat atau bangsa. 

Ketika suatu bangsa menyatakan diri untuk berubah menjadi bangsa yang lebih bermartabat, bebas KKN dan manipulasi, damai, adil, dan sejahtera. Maka, sudah barang tentu akan menghadapi banyak cobaan dan lebih kompleks lagi. Tidak cukup menggantikan wakil rakyat dan presiden dengan yang baru. Namun kebulatan tekad untuk berubah harus terus tertanam pada diri dalam suasana pemerintahan yang baru nanti. Ingatlah kata-kata yang diucapkan Rasulullah SAW setelah menyelesaikan Perang Badar yang sangat berat itu adalah: "Kita telah selesai dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar, yaitu jihad melawan nafsu

Selasa, 19 Februari 2013

Ikhtiyar dan Istikharah



Dalam kehidupan sehari-hari kita sering dihadapkan pada pilihan serba sulit, dari soal jodoh, pekerjaan, rekanan bisnis, hingga memilih pemimpin. Sebuah pilihan tentu membawa risiko: baik atau buruk. Pilihan yang tepat tentu membawa kebaikan, sedangkan pilihan yang buruk akan berakibat pada kerugian. Dalam bahasa agama, perintah untuk memilih yang baik dinamakan ikhtiyar. Orang beriman disuruh berikhtiar. Kata ikhtiyar berasal dari khair yang secara harfiah berarti baik. Jadi, ikhtiyar bermakna melakukan daya upaya untuk memilih yang terbaik. 

Dalam ikhtiyar, pilihan ditentukan oleh manusia sendiri berdasarkan akal pikirannya, hati nurani, dan berbagai pertimbangan lainnya. Apabila seseorang tak mampu atau ragu dalam memilih, agama memerintahkannya supaya melakukan istikharah. Perkataan istikharah juga berakar dari kata khair (baik) atau khiyarah (terbaik). Di sini, istikharah berarti thalab al-khiyarah min Allah, yaitu usaha untuk mendapatkan sesuatu yang terbaik dengan memohon petunjuk dari Allah SWT. 

Jadi, bila ikhtiyar bersifat rasional, istikharah justru bersifat spiritual dan merupakan usaha yang sepenuhnya bersifat rohani. Nabi Muhammad SAW sangat menganjurkan agar umat Islam melakukan istikharah. Jabir bin Abdillah, sahabat Rasulullah SAW, menceritakan bahwa Nabi mengajarkan istikharah dalam segala hal. 

Berdasarkan petunjuk Nabi, sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari, istikharah dilakukan dengan shalat sunat dua rakaat di malam hari. Selesai shalat, orang yang bersangkutan disuruh membaca doa istikharah yang pada intinya berisi permohonan kepada Allah SWT agar ia diberikan sesuatu yang terbaik untuk kepentingan jangka pendek (dunia) maupun jangka panjang (akhirat). 

Berdasarkan hadis di atas, seorang Muslim, menurut Imam Syaukani, tidak boleh meremehkan sesuatu perkara dan mengabaikan istikharah. Soalnya, sering terjadi, barang kecil yang diremehkan, ketika diambil atau ditinggalkan, justru menimbulkan bahaya besar di belakang hari. Ini berarti, lanjut Syaukani, seorang Muslim harus selalu bermohon kepada Tuhan atau meminta petunjuk dari-Nya dalam segala urusan sebelum mengambil keputusan: memilih atau menolak sesuatu. 

Istikharah menjadi penting karena pilihan manusia acap kali bersifat subjektif, partikularistik, dan tidak bebas dari vested interest. Akibatnya, pilihan manusia sering mengecewakan. Manusia terkadang membenci sesuatu yang baik, dan sebaliknya mencintai sesuatu yang buruk. Firman Allah SWT, ''Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.'' (Al-Baqarah: 216). 

Sebagai petunjuk dari Allah SWT, pilihan melalui istikharah memberikan keyakinan yang amat kuat. Pelakunya tidak mungkin bisa disuap atau dipengaruhi. Money politics serangan fajar, dan apalagi rayuan gombal, tidak mungkin menggoyahkan keyakinannya. Wallahu a'lam

Jumat, 04 Januari 2013

Hakikat Syukur

Hakikat Syukur 


Sepanjang hari, nikmat dan anugerah Allah kita peroleh. Tidak usah jauh-jauh, marilah kita lihat diri kita sendiri secara fisik. Kita diberi indera yang lengkap --penglihatan, pendengaran, penciuman, pernapasan, dan seterusnya-- yang memungkinkan kita mengecap segala bentuk nikmat duniawi yang enak-enak dan indah. Atau lihatlah sekeliling kita, sinar mentari yang hangat, air dan udara yang segar, pepohonan tempat berteduh, semua disediakan oleh Allah untuk kita, tanpa kita membayar. 

Itulah sebab Rasulullah SAW menganjurkan agar kita beribadah sebanyak mungkin, sebagai ungkapan syukur kita kepada-Nya, atas pelbagai nikmat pemberian-Nya. Allah adalah Zat Mahasegalanya, jadi Dia tidak membutuhkan apa pun dari kita. Allah pun tidak membutuhkan ibadah kita, karena bagi Dia tidak jadi soal apakah seluruh semesta menyembah-Nya atau malah ingkar pada-Nya. 

Ibadah kita kepada-Nya semata-mata berpangkal dari kesadaran kita sendiri, yakni kesadaran tentang keharusan untuk bersyukur kepada-Nya karena telah memberi kita begitu banyak nikmat. Rasulullah pernah ditanya sahabatnya, mengapa beliau shalat sunat di malam hari (qiyamullail) sampai kakinya bengkak-bengkak. Bukankah beliau sudah diampuni segala dosanya yang akan datang, bukankah beliau sudah dijamin masuk surga? Jadi, buat apa beliau susah-susah memperbanyak ibadah? Beliau menjawab, ''Tidak bolehkah aku bersyukur?'' Jawaban beliau ini untuk menjelaskan bahwa tujuan ibadah bukan semata-mata untuk mengharap surga-Nya, atau agar terhindar dari neraka-Nya. Namun, lebih dari itu, ibadah adalah ekspresi rasa syukur kita kepada Allah atas semua nikmat pemberian-Nya. 

Allah SWT sendiri tidak suka kepada manusia-manusia yang enggan bersyukur. Dalam sebuah hadis qudsi, Dia berkata, ''Siapa yang tidak mau bersyukur atas nikmat pemberian-Ku, dan tidak mau bersabar atas cobaan-Ku, maka silakan saja ia keluar dari kolong langit-Ku dan silakan ia cari tuhan selain Aku!'' 

Dalam tataran paling mendasar, rasa syukur bisa diwujudkan dengan cara menjaga nikmat Allah agar tidak digunakan di jalan maksiat. Kita biasa mengucap hamdalah atau mungkin memperbanyak ibadah mahdhah dan ibadah-ibadah sunat lainnya, sebagai ungkapan rasa syukur kita kepada-Nya karena telah memberi kita nikmat yang tak terkira. Akan tetapi, Alhamdalah kita, amal-amal mahdhah, dan amalan sunat kita yang lain, itu semua tidak akan ada artinya sama sekali jika, di sisi lain dan bersamaan dengan itu, kita masih saja melakukan maksiat kepada Allah dengan menggunakan fasilitas nikmat pemberian-Nya. 

Misalnya saja kita sering shalat dan puasa sunat, katakanlah itu kita lakukan sebagai ungkapan syukur, tetapi kita juga tidak bisa meninggalkan ucapan jorok, menggunjing saudara, dan sebagainya, ya apa gunanya. Karena itu, tentu saja, yang paling baik adalah bila kita rajin shalat dan puasa dan pada waktu bersamaan kita bisa menjaga mulut dan perilaku dari hal-hal yang tidak baik. Itulah antara lain hakikat dari rasa syukur. Wallahu a'lam. 


Kamis, 03 Januari 2013

Hakikat Muhasabah


Hakikat Muhasabah 


Alkisah, hidup seorang tabiin saleh bernama Atha As-Salami. Suatu hari Atha bermaksud menjual kain yang telah ditenunnya. Setelah diamati dan diteliti secara seksama oleh sang penjual kain, sang penjual kain mengatakan, ''Ya, Atha sesungguhnya kain yang kau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya.'' 

Begitu mendengar bahwa kain yang telah ditenunnya ada cacat, Atha termenung lalu menangis. Melihat Atha menangis, sang penjual kain berkata, ''Ya, Atha sahabatku, aku mengatakan dengan sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak dapat membelinya, kalaulah karena sebab itu engkau menangis, maka biarkanlah aku tetap membeli kainmu itu dan membayarnya dengan harga yang pas.'' 

Tawaran itu dijawabnya, ''Wahai sahabatku, engkau menyangka aku menangis disebabkan karena kainku ada cacatnya, ketahuilah, sesungguhnya, yang menyebabkan aku menangis bukan karena kain itu. Aku menangis disebabkan karena aku menyangka bahwa kain yang telah kubuat selama berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi di mata engkau sebagai ahlinya ternyata ada cacatnya. 

Begitulah aku menangis kepada Allah dikarenakan aku menyangka bahwa ibadah yang telah aku lakukan selama bertahun-tahun ini tidak ada cacatnya, tetapi mungkin di mata Allah sebagai ahli-Nya ada cacatnya, itulah yang menyebabkan aku menangis.'' 

Ada dua hikmah yang dapat kita ambil dari kisah tersebut di atas. Pertama, kita harus sering melakukan muhasabah terhadap segala amal kebaikan yang telah kita lakukan. Dr Abdullah Nashih Ulwan dalam kitabnya yang berjudul Ruhaniyatud-Da'iah menjelaskan hakikat muhasabah sebagai berikut: Hendaklah seorang mukmin menghisab dirinya ketika selesai melakukan amal perbuatan, apakah tujuan amalannya untuk mendapatkan ridla Allah, atau apakah amalannya disusupi sifat ria? 

Kedua, jangan bersandar kepada amal yang telah kita lakukan untuk dapat masuk ke surga Allah SWT. Kita harus bersandar kepada ampunan dan rahmat- Nya. Sebagaimana hadis yang disampaikan Rasulullah SAW, ''Berusahalah setepat dan sedekat mungkin, ketahuilah bahwa amal salah seorang dari kamu tidak dapat memasukkannya ke surga.'' Sahabat bertanya, ''Tidak juga engkau Wahai Rasulullah?'' Rasulullah menjawab, ''Tidak juga Aku, melainkan Allah mencurahkan kepadaku ampunan dan rahmat-Nya.'' (Muttafaqa A'laihi). Syekh Ibnu Ataillah As-Sakandari di dalam kitabnya Al-Hikam mengatakan ''Andai bukan karena keindahan tutupan Allah, niscaya tidak suatu amal pun yang dapat diterima.'' 

Semoga hati kita dibersihkan dari nifaq, ria, dusta, dan khianat

kisah Isra' dan Mi'raj


Godaan Dunia 


Dalam kisah Isra' dan Mi'raj, dunia secara simbolik digambarkan seperti wanita lanjut usia (lansia). Tapi, meski sudah lansia, ia tetap ingin tampil lebih menarik. Ia tidak lupa mempercantik diri dengan dandanan dan aksesori yang beraneka ragam. Itulah dunia yang, karena kecantikannya, sangat digemari manusia meski usianya sudah sangat tua. 

Manusia memang memiliki kecenderungan yang sangat kuat kepada dunia dan kemewahannya. Allah SWT berfirman, ''Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah tempat kembali yang baik (surga).'' (Ali 'Imran: 14). 

Perkataan dunia dalam ayat di atas, menurut Imam Ghazali, dapat dipahami secara fisik dan nonfisik. 

Secara fisik dunia menunjuk kepada seluruh benda-benda yang ada di alam ini, sedangkan secara nonfisik (rohani), dunia menunjuk kepada sikap dan perbuatan (A'mal al-qulub) terhadap dunia itu sendiri seperti sifat loba, serakah, sombong, dan membanggakan diri. Bagi Ghazali, semua sifat-sifat ini disebut dunia dalam arti bathini atau rohani. 

Sebagai tokoh sufi, Ghazali banyak memberikan nasihat dan taushiyah dalam soal dunia ini. Intinya, ia mengingatkan agar manusia tidak tergoda dan teperdaya oleh daya tarik dunia. Pesannya, ''Wahai sekalian manusia, jangan sekali-kali kalian condong pada dunia, karena ia suka menipu dan memperdaya. Tipu dayanya terkadang membuat kamu jatuh hati. Ia terus bersolek di hadapan para penggemarnya, sehingga ia tak ubahnya seorang pengantin wanita yang sangat cantik jelita. Semua pandangan tertuju padanya. Semua orang terpikat dan merindukannya. Namun, jangan kalian lupa, betapa banyak orang yang merindukannya justru dibunuhnya, dan orang yang sepenuh hati mencintainya justru dikhianatinya.'' 

Agar tidak tertipu, menurut Ghazali, setiap Muslim perlu mengetahui hakikat dunia, termasuk mengetahui mana yang buruk, mana yang harus dijauhi, dan mana yang boleh diambil. Dalam kaitan ini, dunia terbagi ke dalam tiga kategori. Pertama, bagian dunia yang bernilai abadi dalam arti berguna dan bermanfaat bagi manusia di akhirat, yaitu ilmu dan amal. 

Kedua, bagian dunia yang merupakan kesenangan sesaat dan tidak ada nilainya sama sekali di akhirat kelak, seperti bersenang-senang dan berfoya-foya dengan kenikmatan dunia. 

Ketiga, bagian dunia yang mendukung kebaikan akhirat. Bagian ini tidak sama dengan bagian pertama, tapi merupakan pendukung dan sarana bagi terwujudnya bagian pertama. 

Dari bagian ini, yang diburu oleh banyak manusia justru bagian kedua, yaitu bagian yang pada akhirnya akan membuat manusia menderita. Hal ini, karena bagian tersebut hanya akan mendatangkan dua hal saja, yaitu hisab (audit dan pertanggungjawaban kekayaan) dan azab atau siksa. Kata Nabi, ''Harta itu halalnya hisab sedangkan haramnya merupakan azab.'' Jadi, kalau begitu, kita harus pilih bagian pertama dan ketiga, supaya kita selamat dari godaan dunia. 

Di Ambang Ramadhan


Di Ambang Ramadhan 


Bulan Ramadhan segera menjelang. Rahmat dan ampunan Allah SWT pun akan datang, lengkap dengan pahala-Nya yang menjulang. Di saat seperti ini, Rasulullah SAW telah memberi sunnah. 

Pertama, memperbanyak puasa sunat di bulan Sya'ban (HR Bukhari). Secara eksplisit, Rasul mengajak membiasakan puasa sunat sebagai latihan menghadapi medan pertempuran melawan hawa nafsu yang sesungguhnya: puasa fardhu. 

Secara implisit, disunnahkan fisik dan kejiwaan kita dikondisikan. Kesehatan dijaga. Hati ditautkan. Pelan-pelan kerinduan kepada bulan suci dibangkitkan hingga ketika malam pertama Ramadhan menghampiri, kerinduan itu langsung diwujudkan dengan menegakkan perintah dan anjuran-Nya saat Ramadhan, persis pelampiasan kerinduan seseorang kepada kekasihnya yang setahun tak bersua. 

Kedua, bergembira secara terbuka dan menyebarkannya kepada kaum Muslimin. Rasul menunjukkan keriangannya dan berkali-kali memompa perasaan yang sama kepada para sahabat dengan menyampaikan warta gembira, seperti dibukakannya pintu surga, pintu neraka ditutup, dan dibelenggunya para setan (HR Ahmad dan Nasaai). 

Juga adanya suatu malam yang bila beramal saat itu akan diganjar lebih baik daripada amal selama seribu bulan (QS Al Qadr). Allah pun berjanji mengampuni dosa-dosa kita di masa lalu jika benar-benar berpuasa dan menegakkan malam-malam Ramadhan (HR Tirmidzi, Abu Daud, Nasaai dan Ibnu Majah). Tentu saja, kecuali dosa syirik, dosa-dosa besar yang memerlukan tobat khusus seperti zina, serta dosa-dosa penganiayaan manusia lain yang membutuhkan pemaafan korban lebih dulu, seperti pembunuhan (penzaliman fisik), atau korupsi dan kejahatan perdagangan (penzaliman harta). 

Bergembiralah setiap hari karena Rasul SAW bersabda bahwa seseorang yang berpuasa bergembira dua kali, yakni saat berbuka dan bertemu Allah (HR Muslim). Karenanya, tiada tempat rasa sedih dan gelisah. Juga bayangan akan kelaparan, atau kesulitan berdagang makanan/minuman di siang hari, serta godaan tidak mampu bekerja jika berpuasa. Hanya orang kafir dan munafik yang bermuram durja setiap Ramadhan menyapa. 

Ketiga, di akhir bulan Sya'ban Rasul SAW mengumpulkan orang-orang serta berpidato tentang keutamaan Ramadhan dan dorongan memperbanyak amal (HR Ibnu Khuzaimah). Termasuk penghidupan sunnah Nabi jika ada acara khusus berupa khutbah, seminar, atau diskusi apa pun untuk memperkuat semangat ibadah kaum Muslimin yang dilakukan para pejabat pemerintah dan swasta, juga para kepala keluarga. 

Semoga Ramadhan menjadi titik tolak perubahan pemikiran, perasaan, dan tindakan manusia hingga tiada lagi kaum Muslimin yang menderita. (Fahmi AP Pane) 

Kamis, 27 Desember 2012

Bulan Bederma


Bulan Bederma 


Allah SWT dalam salah satu ayat Alquran berfirman, ''Kalian semua tidak akan pernah mendapatkan kebaikan sebelum kalian mendermakan sebagian harta yang kalian cintai. Ketahuilah, segala apa yang kalian dermakan pasti Allah mengetahuinya.'' (Ali 'Imran: 92). 

Dalam salah satu hadis sahih, Ibnu Abbas bercerita, Rasulullah SAW adalah sosok manusia paling dermawan dalam kebaikan apa pun. Hal itu makin beliau tingkatkan selama bulan Ramadhan, pada waktu Malaikat Jibril datang menemui beliau setiap malam untuk menyampaikan wahyu Allah dan mendengarkan bacaan tadarus Alquran yang telah Nabi Mumammad SAW terima. Pada saat Jibril menemui beliau, tergambar bahwa kedermawanan Nabi itu sebanding, bahkan melebihi dari angin kencang yang bertiup. (HR Bukhari). 

Salah satu dari sifat mulia yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW adalah sifat dermawan. Dalam satu hadis lain, Anas bin Malik berkata, ''Nabi SAW itu adalah sosok pemberani dan penderma.'' (HR Bukhari). Di hadis lain, Anas juga pernah mendengar langsung Nabi SAW bersabda, ''Saya adalah salah satu anak keturunan Nabi Adam yang paling penderma. Dan orang-orang yang termasuk ke dalam golongan penderma setelah aku adalah orang-orang berilmu yang menyebarkan ilmunya, juga orang-orang yang mendermakan dirinya di jalan Allah.'' (HR Tirmidzi). 

Dalam riwayat lain yang juga disampaikan oleh Ibnu Abbas, digambarkan bahwa sosok Nabi SAW itu tidak pernah mengecewakan orang-orang yang meminta segala sesuatu kepada beliau. Beliau pasti memberikan apa yang diminta, jika memang beliau sendiri memilikinya. Kata Ibnu Abbas, ''Tidak ada yang meminta sesuatu pun kepada Nabi SAW, selain pasti diberikannya.'' (HR Ahmad). 

Dalam kesempatan yang lain, Jabir, salah satu sahabat Nabi SAW, menggambarkannya demikian pula, ''Rasulullah SAW tidak pernah diminta sesuatu oleh seseorang kemudian menjawab tidak (menolaknya).'' (HR Ahmad). 

Dermawan merupakan salah satu sifat yang paling terpuji dan mulia. Orang yang dermawan pada hakikatnya merupakan bentuk konkret dalam meneladani sifat Allah dan Rasul-Nya. Dalam salah satu riwayat yang disampaikan oleh Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, ''Sesungguhnya Allah itu Zat yang Maha Penderma, karena itulah Dia menyukai sifat dermawan.'' (HR Tirmidzi). Dengan demikian, tidak ada alasan bagi umat manusia untuk bersifat kikir atau bakhil, karena itu berlawanan dengan sifat Allah SWT dan Nabi-Nya. 

Di bulan Ramadhan yang penuh berkah melimpah ini, sifat dermawan mesti ditingkatkan hingga menjadi budaya positif. Nabi SAW sendiri, karena saking cepatnya dalam mendermakan apa yang dimilikinya, disamakan dengan angin cepat yang bertiup, bahkan lebih cepat dari itu semua. Gambaran sifat dermawan Nabi SAW ini merupakan gambaran riil bahwa beliau tidak sekadar satu atau dua kali dalam bederma, akan tetapi lebih dari itu, beliau menjadikan sifat dermawan ini sebagai budaya positif pada dirinya, hingga wafat. 

Apa yang beliau dermakan lebih jauh lagi adalah gambaran kasih sayang yang beliau miliki kepada manusia lain. Seperti angin bertiup yang memberikan kasihnya kepada segala hal yang dilaluinya. Istiqamah dalam bederma, dengan terus-menerus melakukannya di setiap waktu, dalam berbagai macam bentuknya, adalah inti dari teladan yang Nabi SAW ingin sampaikan. Demikian Imam Nawawi menyimpulkan inti sari sifat dermawan Nabi Muhammad SAW tersebut. Semoga kita menjadi hamba-hamba Allah SWT yang suka bederma. Wallahu a'lam. (Fajar Kurnianto) 

Budaya Malu


Budaya Malu 


Dalam sebuah riwayat Rasulullah bersabda, ''Apabila kamu sudah tidak punya perasaan malu, maka lakukanlah apa pun yang kamu mau.'' Dari riwayat tersebut Rasulullah ingin mengajarkan bahwa malu merupakan salah satu prasyarat untuk ketakwaan, dalam artian ketika ingin melakukan suatu kesalahan atau maksiat dan perasaan malu ada dalam hati maka keinginan untuk melakukannya menjadi hilang. 

Malu yang dimaksud oleh Rasulullah di sini bisa diartikan dua hal. Pertama, malu kepada Allah, karena setiap perbuatan manusia sekecil apa pun dan detik per detik tentu tak akan lepas dari muraqabatullah. Ketika Allah membenci setiap perbuatan maksiat seorang hamba, ketika itulah si hamba harus sadar bahwa kemurkaan Allah akan didapatkan kalau perbuatan itu terus dilakukan. 

Kedua, malu kepada manusia. Ini bukan berarti kita berubah menjadi menuhankan manusia itu sendiri, tetapi yang dimaksud di sini adalah perasaan malu ketika manusia lain mengetahui perbuatan tersebut. Sebab, secara manusiawi setiap orang yang melakukan kesalahan pasti ingin menyembunyikan dari orang lain, karena hati kecil manusia selalu dan akan selalu mengajak kepada perbuatan mulia. 

Kalau dikaitkan dengan potret pemilu di Indonesia sekarang, kita sampai kepada kesimpulan bahwa perasaan malu sudah tidak lagi dipunyai para elite politik. Keinginan untuk memperoleh jabatan dan kekuasaan mengalahkan bisikan hati nurani. Rasa malu karena kekalahan dan ejekan pendukung mengalahkan rasa malu kepada Allah yang menciptakan kekuasan itu sendiri. Berbagai upaya ditempuh untuk sebuah kebanggaan di dunia walaupun harus melakukan cara-cara tercela. 

Semakin jauhnya harapan rakyat dari realita tidak memberikan kesadaran dan rasa malu bagi mereka yang gagal mengemban amanah rakyat. Krisis ekonomi semakin menghimpit, harga-harga melangit, kesejahteraan wong cilik semakin tak tersentuh. Pengangguran, anak jalanan, kriminalitas semakin menjadi-jadi. Tapi, ketika mengampanyekan diri untuk menjadi pemimpin, dengan tidak punya rasa malu kembali berteriak lantang sebagai orang yang paling peduli kepada rakyat. 

Janji menciptakan pemerintahan yang bersih dari KKN dan money politics justru diteriakkan lantang oleh orang yang menyuburkan korupsi. Entah ke mana lagi rasa malu yang dipunyai calon pemimpin kita. Kepada manusia sendiri sudah hilang. Apalagi kepada Allah sebagai tempat pertanggungjawaban yang mahaadil di akhirat kelak. 

Kepemimpinan dapat diartikan sebagai amanah sekaligus teladan kepada rakyat. Kepemimpinan bertujuan membimbing dan mengarahkan rakyat untuk sejahtera dan mengesampingkan kesenangan pribadi dan kolega, siap menderita ketika harus sampai kepada pilihan berbagi kesengsaraan dengan rakyat. 

Mungkin masih relevan pesan nurani Bung Hatta, Sang Proklamator Kemerdekaan Indonesia, ''Pemimpin yang bisa diandalkan rakyatnya adalah pemimpin yang mempunyai keberanian untuk menderita dan menahan rasa sakit.''

Rabu, 26 Desember 2012

Berani Karena Benar


Berani Karena Benar 


Sepeninggal Rasulullah SAW, terdapat sekelompok orang yang mengakui kenabian Muhammad SAW, tetapi tidak mengakui zakat sebagai suatu kewajiban dan ibadah yang harus ditunaikan. Kepala negara saat itu, Khalifah Abu Bakar Siddiq RA, menolak tindakan tersebut dengan memerangi mereka seluruhnya supaya kembali kepada agama Allah SWT secara benar. 

Pada suatu kesempatan banyak sahabat berkata kepadanya, ''Wahai khalifah Rasulullah, tetaplah engkau di rumahmu, sembahlah Rab-mu hingga wafat mendatangimu. Kita tidak memiliki kekuatan untuk memerangi seluruh bangsa Arab.'' 

Di antara mereka yang berkata demikian adalah Umar bin Khatab al- Faruq. Ia sempat dibentak oleh Abu Bakar yang bagai auman singa sedang marah, ''Apakah engkau pendekar di zaman jahiliah dan penakut di zaman Islam, wahai Umar? Akankah aku mengharapkan pertolonganmu, sementara itu engkau mendatangiku dan mengecewakanku?'' 

Lalu, Abu Bakar melanjutkan ucapannya, ''Demi Allah, kalau mereka menolak menyerahkan tali kendali unta yang biasa mereka berikan kepada Rasulullah SAW, akan kuperangi mereka selama tanganku masih mampu memegang pedang.'' 

Akhirnya, semua yang dikatakan Abu Bakar itu diwujudkannya dan pasukan pun segera bergerak menghajar orang-orang yang kembali kufur itu, mengembalikan orang-orang yang melarikan dan mengambil hak-hak orang fakir dari orang-orang yang enggan mengeluarkan zakat. (Min Ajli Sahwah Rasyidah, karya Yusuf Qordlowi). 

Peristiwa tersebut di atas memberikan pelajaran kepada kita betapa Abu Bakar sebagai seorang kepala negara yang terkenal sentimental, lemah lembut, tawadu, dan khusyuk, itu berubah menjadi pemberani dan tegar ketika harus membela kepentingan dan hak-hak rakyat, sekalipun rakyat tidak menuntutnya. Bahkan dia terus mengembalikan hak-hak rakyat meskipun ada sebagian orang yang tidak menyetujui tindakannya. 

Akhirnya, dengan sikap seperti ini rakyat pun memberikan dukungan penuh kepadanya. Barangkali, sikap beliau itu didorong oleh pemahamannya atas sabda Rasulullah SAW, ''Pemimpin itu adalah benteng, rakyat berperang dibelakangnya, dan berlindung padanya.'' 

Banyaknya tuntutan masyarakat saat ini kepada pemegang amanat kekuasaan untuk mengusut dan mengadili kasus-kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta menuntut keberpihakan kepada kepentingan masyarakat sepatutnya menumbuhkan keberanian dan keseriusan untuk menuntaskan masalah ini. 

Pengembalian hak rakyat yang dirampas tidak perlu menunggu adanya tuntutan. Jika tidak, apa yang menimpa Bani Israil, akan menimpa umat sekarang. Dahulu, Bani Israil ditimpa malapetaka karena bila ada rakyat kecil bersalah, merampas hak orang lain, ia dihukum habis-habisan. Namun, jika yang melakukannya ''orang besar'', tak ada hukum yang berani menyentuhnya. (MR Kurnia) 

Minggu, 23 Desember 2012

Berlaku Benar dan Jujur


Berlaku Benar dan Jujur 


Istilah benar dan jujur merupakan terjemahan dari kata sidq. Lawannya adalah kizb yang berarti dusta atau bohong. Sifat benar dan jujur seharusnya menjadi sifat orang beriman dan bertakwa. Sifat ini membawa pemiliknya kepada kebaikan. 

Rasulullah SAW bersabda, ''Sesungguhnya sifat benar membawa kepada kebaikan, kebaikan membawa ke surga. Sesungguhnya yang benar lagi jujur akan digelari Allah dengan siddiq. Sedangkan kebohongan membawa kepada perbuatan dosa, perbuatan dosa membawa pemiliknya ke neraka. Laki-laki yang berbohong akan digelari Allah dengan kazzab (pembohong).'' (HR Bukhari-Muslim). 

Sifat benar dan jujur merupakan akhlak mulia. Bahkan, ia termasuk sifat yang selalu melekat pada setiap Rasul Allah. Allah berfirman, ''Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim dalam Al-Kitab (Alquran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi. Allah juga memberikan gelar siddiq kepada Ismail, Idris, dan rasul lain.'' 

Ada beberapa tingkatan benar dan jujur yang perlu dipraktikkan. Pertama, benar dan jujur dalam ucapan atau lisan. Orang yang memiliki sifat ini akan selalu memelihara lisan dari perkataan tidak benar dan bohong. 

Kedua, benar dan jujur dalam niat. Ini dibuktikan dengan selalu ikhlas dalam niat. Niat yang ikhlas berlaku bagi semua aktivitas yang dilakukan seseorang. 

Ketiga, benar dalam cita-cita. Biasanya, sebelum melakukan pekerjaan selalu diawali dengan cita-cita atau tekad (azam). Misalnya, ada orang mengatakan, apabila Allah memberinya rezeki, ia akan menyedekahkan semua atau sebagiannya. Begitu pula, apabila Allah memberinya kekuasaan sebagai pemimpin, ia akan berlaku adil. Kebenaran tekad ini akan terbukti setelah ia memperoleh apa yang dicita-citakannya. 

Keempat, benar dalam memenuhi tekad dan cita-cita. Orang sering kali mudah berjanji dan menyatakan cita-cita, tekad, dan rencana. Namun, banyak orang merasa berat mewujudkan janji dan rencananya karena tergoda hawa nafsu yang cenderung mengingkarinya. Perilaku orang ini bertentangan dan jauh dari nilai-nilai kebenaran dan kejujuran. Sebaliknya, orang yang benar dan jujur selalu memenuhi tekad, janji, dan rencana dengan baik, seperti firman Allah, ''Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.'' (QS 33: 23). 

Kelima, benar dan jujur dalam beramal. Sifat ini ditampilkan secara lahir dan batin. Apa yang ada dalam batin dibuktikan dengan amal secara lahir. Keenam, benar dan jujur dalam menjalankan ajaran Islam, dan ini merupakan tingkatan yang tertinggi. Orang yang memiliki sifat ini melekat padanya beberapa sifat lain, seperti khauf dan raja (takut dan harap), zuhud, ridha, tawakal, dan hubb (cinta) kepada Allah dan rasul-Nya. 

Sifat benar dan jujur (sidq) perlu dimiliki setiap Mukmin, sehingga ia disenangi Allah dan manusia. Melaluinya, ia akan berhasil, beruntung, dan memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. (Firdaus) 

Jumat, 21 Desember 2012

Berkoalisi dengan Dhuafa


Berkoalisi dengan Dhuafa 


Pada awal-awal tahun syiar Islam, Muhammad Rasulullah SAW berusaha mencari dukungan dari beberapa pemimpin suku di Makkah. Istilah bahasa politik kita sekarang: berkoalisi. Tujuan beliau jelas, agar barisan Islam yang kala itu masih baru dan didukung sedikit orang, menjadi kuat dan mantap. 

Dalam berbagai kesempatan, beliau rajin melakukan lobi, terutama dengan pembesar Quraisy yang amat disegani. Ketika sedang asyik-asyiknya membicarakan koalisi dengan mereka --seperti Abbas bin Abdul Muthalib, Al-Walid bin Al-Mughirah, Abu Jahal bin Hisyam, dan Umaiyah bin Khalaf-- agar bersedia masuk Islam, tiba-tiba nyelonong seorang buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum. 

Ia adalah anak paman dari Khadijah binti Khuwailid, yang tak lain adalah istri Rasulullah. Abdullah ini rupanya kurang sensitif membaca situasi yang sedang serius. ''Wahai Rasulullah, ajarilah saya tentang Islam dan apa pun yang diajarkan Allah kepadamu,'' katanya memotong pembicaraan. 

Bukan cuma satu-dua kali Abdullah memotong pembicaraan sehingga acara lobi itu terganggu. Karuan saja wajah Rasulullah berubah masam. Saat itulah Allah SAW menegur Muhammad lewat wahyu yang kemudian dihimpun dalam surat 'Abasa (Ia Bermuka Masam). 

''Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu, barangkali ia juga ingin membersihkan diri (dari dosa), atau ia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat baginya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (kaya), maka kamu melayaninya. Padahal tak ada (celaan) atasmu jika ia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian). Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.'' (QS 80: 1-11) 

Dalam kitab Lubabun Nuqul fi Asbabun Nuzul, Al-Imam Jalaluddin As- Suyuti yang mengutip At-Tirmidzi dan Al-Hakim, menyebutkan bahwa surat tersebut merupakan teguran tajam dari Allah kepada Muhammad. 

Sejak itu sikap Nabi terhadap Abdullah berubah. Dan, terbukti, Abdullah benar. Para tokoh kuat dan kaya suku Quraisy yang diajak koalisi oleh Nabi disertai harapan ''anak buah'' mereka pun akan ramai-ramai ikut masuk Islam, malah menjadi musuh besar Islam. Perlakuan kasar merekalah yang kemudian menyebabkan Rasulullah memutuskan hijrah ke Madinah. 

Dalam banyak riwayat (tarikh), kita tahu misi dan visi Nabi pada awalnya justru berhasil karena berkoalisi dengan kaum lemah (dhuafa): para mualaf, rakyat biasa dan miskin (bukan tokoh populer), para gembel, dan juga budak-budak --di samping beberapa tokoh kuat seperti Khadijah dan Abu Bakar. 

Begitu bangga Rasulullah pada mereka sampai beliau pernah berkata bahwa merekalah (kaum lemah) sebenarnya sumber kekuatan kepemimpinan beliau. Allah makin menguatkan kebenaran itu dalam surat Saba' ayat 34-35. Wallahu a'lam. (EH Kartanegara

Bahaya Kemunafikan


Bahaya Kemunafikan 


Dalam surat al-Baqarah dikisahkan tentang tiga golongan manusia. Pertama, suatu golongan yang menerima ajaran Allah secara kaffah yang disebut sebagai orang-orang yang bertakwa. 

Kedua, golongan yang menolak ajaran Allah secara mutlak yang dikenal sebagai orang-orang kafir. Golongan ini tidak saja menolak tapi juga memusuhi Islam, baik dengan perkataan maupun perbuatan. 

Ketiga ialah golongan yang memiliki dua kepribadian, yakni berkepribadian Islam jika berada di tengah-tengah kaum muslimin, dan berkepribadian ingkar ketika sedang di antara orang-orang yang memusuhi Islam. Kelompok ini dinyatakan sebagai golongan orang-orang munafik. 

Meskipun ketiga jenis golongan tersebut selalu ada dalam setiap perkembangan sejarah kehidupan manusia, namun Al-Qur'an lebih banyak menceritakan golongan orang-orang munafik karena keberadaan mereka di dunia dianggap sangat berbahaya. 

Ciri-ciri orang munafik tentu sangat bertentangan dengan sifat-sifat orang yang bertakwa. Fudhail bin 'Iyadh mengumpamakan orang yang bertakwa seperti orang yang menanam pohon kurma dan merasa takut akan tumbuh duri. Namun sebaliknya, orang munafik bagaikan orang yang menanam duri tapi mengharapkan tumbuh kurma. Orang yang bertakwa selalu beramal sembari merenungi dirinya dan merasa cemas jika amal ibadahnya tidak diterima oleh Allah. Sedangkan orang munafik, sedikit beramal tetapi membanggakan amalnya yang sedikit itu. 

Sebagaimana dituturkan oleh Rasulullah SAW, bahwa orang munafik mempunyai tiga ciri-ciri, yakni kalau berbicara berbohong, bila berjanji mengingkari dan jika dipercaya berkhianat. Apabila tiga ciri-ciri ini terdapat pada diri seseorang, maka dia itulah orang munafik. Sesungguhnya, tidak ada penyakit yang lebih berbahaya dari pada kemunafikan. Sebab kemunafikan adalah ibarat debu yang sangat lembut. Terbangnya tidak terlihat, namun tiba-tiba tampak menebal di atas benda yang ia hinggapi. Kemunafikan akan menutupi hati manusia, membuat titik-titik noda di dalamnya, sehingga ruang hati menjadi gelap. Pada gilirannya, hati menjadi sarang berbagai penyakit seperti sikap sombing, riya', ujub, dengki yang menyebabkan anugerah Allah menjadi sulit untuk diraih. 

Kemunafikan merupakan puncak perbuatan dosa. Karenanya, membersihkan diri dari sifat kemunafikan menjadi suatu keniscayaan. Sebab ia dapat merusak, menjatuhkan dan menghancurkan agama. Seorang sufi mengatakan: seandainya dosa orang-orang munafik bisa tumbuh seperti tanaman di muka bumi, maka tidak ada tempat bagi seorang mukmin untuk berjalan oleh karena banyaknya dosa mereka. Maka itu, tidak ada tempat yang layak bagi orang-orang munafik kecuali neraka yang paling dasar. Na'udzubillah min dzalik! (Tatik Chusniyati) 


Minggu, 16 Desember 2012

BAHAYA KEMUNAFIKAN


Bahaya Kemunafikan 


Dalam surat al-Baqarah dikisahkan tentang tiga golongan manusia. Pertama, suatu golongan yang menerima ajaran Allah secara kaffah yang disebut sebagai orang-orang yang bertakwa. 

Kedua, golongan yang menolak ajaran Allah secara mutlak yang dikenal sebagai orang-orang kafir. Golongan ini tidak saja menolak tapi juga memusuhi Islam, baik dengan perkataan maupun perbuatan. 

Ketiga ialah golongan yang memiliki dua kepribadian, yakni berkepribadian Islam jika berada di tengah-tengah kaum muslimin, dan berkepribadian ingkar ketika sedang di antara orang-orang yang memusuhi Islam. Kelompok ini dinyatakan sebagai golongan orang-orang munafik. 

Meskipun ketiga jenis golongan tersebut selalu ada dalam setiap perkembangan sejarah kehidupan manusia, namun Al-Qur'an lebih banyak menceritakan golongan orang-orang munafik karena keberadaan mereka di dunia dianggap sangat berbahaya. 

Ciri-ciri orang munafik tentu sangat bertentangan dengan sifat-sifat orang yang bertakwa. Fudhail bin 'Iyadh mengumpamakan orang yang bertakwa seperti orang yang menanam pohon kurma dan merasa takut akan tumbuh duri. Namun sebaliknya, orang munafik bagaikan orang yang menanam duri tapi mengharapkan tumbuh kurma. Orang yang bertakwa selalu beramal sembari merenungi dirinya dan merasa cemas jika amal ibadahnya tidak diterima oleh Allah. Sedangkan orang munafik, sedikit beramal tetapi membanggakan amalnya yang sedikit itu. 

Sebagaimana dituturkan oleh Rasulullah SAW, bahwa orang munafik mempunyai tiga ciri-ciri, yakni kalau berbicara berbohong, bila berjanji mengingkari dan jika dipercaya berkhianat. Apabila tiga ciri-ciri ini terdapat pada diri seseorang, maka dia itulah orang munafik. Sesungguhnya, tidak ada penyakit yang lebih berbahaya dari pada kemunafikan. Sebab kemunafikan adalah ibarat debu yang sangat lembut. Terbangnya tidak terlihat, namun tiba-tiba tampak menebal di atas benda yang ia hinggapi. Kemunafikan akan menutupi hati manusia, membuat titik-titik noda di dalamnya, sehingga ruang hati menjadi gelap. Pada gilirannya, hati menjadi sarang berbagai penyakit seperti sikap sombing, riya', ujub, dengki yang menyebabkan anugerah Allah menjadi sulit untuk diraih. 

Kemunafikan merupakan puncak perbuatan dosa. Karenanya, membersihkan diri dari sifat kemunafikan menjadi suatu keniscayaan. Sebab ia dapat merusak, menjatuhkan dan menghancurkan agama. Seorang sufi mengatakan: seandainya dosa orang-orang munafik bisa tumbuh seperti tanaman di muka bumi, maka tidak ada tempat bagi seorang mukmin untuk berjalan oleh karena banyaknya dosa mereka. Maka itu, tidak ada tempat yang layak bagi orang-orang munafik kecuali neraka yang paling dasar. Na'udzubillah min dzalik! (Tatik Chusniyati) 


BAHAYA FITNAH


Bahaya Fitnah 


Berbicara tentang kejelekan orang lain dan mencelanya disebut menggunjing jika benar, dan disebut fitnah jika tidak benar. Tentu saja, tidak ada seorang manusia pun yang bebas dari dosa. Orang bijak mengatakan, manusia itu tidak lepas dari kesalahan dan lupa. Dengan begitu, manusia itu memang tidak sempurna, ia bisa berbuat khilaf. 

Manusia pada umumnya hidup di balik tabir, yang oleh Tuhan --dengan kebijakan-Nya-- digunakan untuk menutupi perbuatan-perbuatannya. Kalau saja tabir Ilahi ini diangkat untuk memperlihatkan semua kesalahan dan kekeliruan kita, niscaya semua orang akan lari dengan yang lain dengan rasa jijik dan masyarakat akan runtuh hingga ke dasar-dasarnya. Itulah sebabnya mengapa Allah melarang kita membicarakan kejelekan orang lain. Maksudnya agar kita terlindung dari pembicaraan orang lain mengenai diri kita. 

Dengan wujud dan kelemahan manusia seperti itulah, agama kemudian melarang kita untuk saling menggunjing dan, apalagi, menfitnah. Banyak ayat suci Alquran dan hadis Nabi Muhammad SAW yang mencela keras segala bentuk fitnah, yang justru akhir-akhir ini makin merebak di tanah air. Allah SWT berfirman, ''Sesungguhnya mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah dan mereka itulah orang-orang pendusta.'' (Al-Nahl: 105). 

Tidak dapat dimungkiri bahwa dampak dari fitnah bukan saja terhadap mereka yang difitnah, tapi juga terhadap masyarakat luas. Di tanah air kita sendiri seringkali terjadi keributan dan kerusuhan yang disebabkan oleh fitnah dan adu domba. Begitu besarnya bahaya dan dosa fitnah, hingga oleh Islam dikategorikannya sebagai perbuatan lebih kejam dari pembunuhan. Bahkan, Nabi Muhammad SAW lebih mempertegasnya lagi dengan sabdanya, ''Tidak akan masuk surga orang yang menghambur-hamburkan fitnah (suka mengadu domba).'' (HR Abu Dawud dan At-Thurmudzi). 

Menurut Islam, perilaku manusia dan tindakannya di dalam kehidupan merupakan salah satu dari fenomena akidahnya. Untuk itu kita diminta untuk berpegang teguh pada akidah yang telah ditetapkan dan digariskan agama. Para ulama mengatakan, kalau akidah kita baik, maka akan baik dan lurus pula perilaku kita. Dan, apabila akidah kita rusak, akan rusak pula perilaku kita. Oleh karena itu, maka akidah tauhid dan iman adalah penting dan dibutuhkan oleh manusia untuk menyempurnakan pribadinya dan mewujudkan kemanusiaannya. 

Adalah ajakan kepada akidah ini merupakan hal pertama yang dilakukan Rasulullah agar ia menjadi batu pertama dalam bangunan umat Islam. Hal ini, karena kekokohan akidah ini di dalam jiwa manusia akan mengangkatnya dari materialisme yang rendah dan mengarahkannya kepada kebaikan, keluruhan, kesucian, dan kemuliaan. 

Apabila akidah ini telah berkuasa, maka ia akan melahirkan keutamaan-keutamaan manusia yang tinggi seperti keberanian, kedermawanan, kebajikan, ketenteraman, dan pengorbanan. Orang yang berpegang pada akidah tidak akan mau melakukan perbuatan-perbuatan yang mengarah pada fitnah. Karena dengan akidahnya itu, ia tidak ingin tergelincir pada jurang kedosaan yang dikutuk agama. Wallahu a'lam. (Alwi Shahab) 

Jumat, 14 Desember 2012

ALLAH MENGAJARKAN CINTA


Allah Mengajarkan Cinta


Cinta adalah salah satu pesan agung yang Allah sampaikan kepada umat manusia sejak awal penciptaan makhluk-Nya. Dalam salah satu hadis yang diterima dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, ''Ketika Allah mencipta makhluk-makhluk-Nya di atas Arsy, Dia menulis satu kalimat dalam kitab-Nya, 'Sesungguhnya cinta kasihku mengalahkan amarahku'.''(HR Muslim). Atau dalam versi yang lain, ''Sesungguhnya cinta kasihku mendahului amarahku.'' (HR Muslim). 

Dalam kehidupan manusia, cinta sering direfleksikan dalam bentuk dan tujuannya yang beragam. Ada dua bentuk cinta. Pertama, cinta karena Allah. Kedua, cinta karena manusia. Seseorang yang mencintai orang lain karena Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mengarahkan cinta itu sebagai media efektif untuk saling memperbarui dan saling introspeksi diri, sudah sejauh mana pengabdian kita kepada Allah. Cinta model ini akan berujung pada kepatuhan total dan ketundukan tulus, bahwa apa yang dilakukannya adalah semata-mata karena pembuktian cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya. 

Seseorang yang mencintai orang lain karena manusia, akan banyak menimbulkan persoalan serius. Cinta ini sifatnya singkat, karena cinta model ini biasanya muncul karena dorongan material dan hawa nafsu. Dua hal yang sering membuat manusia lalai dalam kenikmatan duniawi. 

Rabi'ah al-Adawiyah, seorang tokoh sufi terkemuka, suatu ketika pernah berlari-lari di jalan sambil membawa seember air dan api. Ketika ditanya oleh seseorang tentang apa yang sedang dilakukannya, Rabi'ah tegas menjawab bahwa ia membawa air untuk menyiram api neraka, dan membawa api untuk membakar surga. Rabi'ah memberikan alasan, bahwa hanya karena niat ibadah untuk memperoleh surga dan terhindar dari api neraka inilah, kebanyakan manusia melupakan tujuan hakiki ibadahnya. Padahal, ibadah bukanlah bertujuan untuk memperoleh surga atau menghindari neraka. Ibadah merupakan bentuk cinta tulus ikhlas kepada Allah semata. 

Pergaulan hidup juga mesti dilandasi cinta. Dengan itu, kehidupan akan berjalan harmonis dan langgeng. Cinta yang diajarkan Allah SWT adalah cinta yang berujung pada keabadian, karena Allah sendiri adalah Zat yang abadi dan tak pernah rusak. Maka, keabadian, keharmonisan, dan kesejahteraan umat manusia akan tercapai jika cinta yang ada pada diri manusia ditujukan semata-mata karena Allah. Allah SWT sendiri yang mengingatkan manusia, bahwa Dia tidak akan pernah mendahulukan amarah-Nya. Cinta Allah yang menyebar di alam semesta inilah yang menjadi bukti bahwa keharmonisan itu benar-benar terjadi. 

Seseorang yang tidak melakukan cinta model yang Allah SWT ajarkan tidak akan berhasil mendapatkan cinta Allah. Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah SAW bersabda, ''Siapa yang tidak mencintai manusia, maka ia tidak akan Allah cintai.'' (HR Al-Bukhari). Model cinta yang Allah ajarkan adalah cinta tertinggi, kerena selain berakibat pada kebahagiaan abadi di akhirat, imbasnya bagi kehidupan dunia pun akan terasa. Wallahu a'lam. 


ALLAH BERSAMA KITAKAH?


Allah Beserta Kitakah?


Kisah sukses perebutan benteng oleh pasukan Khalid bin Walid merupakan pertolongan Allah kepada pasukan Islam karena mawas diri. Kegagalan pasukan Islam selama tiga bulan karena ''ada yang kurang'' dalam beribadah, sehingga Allah tidak kunjung beserta mereka dalam peperangan itu. Untuk itu, mereka memutuskan untuk berpuasa. Maka datanglah pertolongan Alah melalui anjing-anjing yang mencuri makanan sahur mereka. Subhanallah. 

Kisah nyata berikut ini menunjukkan bahwa betapa Allah memberi pertolongan dari arah yang tidaak disangka-sangka kepada mereka yang berjuang di jalan-Nya dengan kepatuhan mutlak. Kisah terjadi saat perebutan Konstantinopel (Romawi Timur) oleh pasukan Turki. Hal ini terungkap berkat penelitian terhadap dua buah pulau di Samudra Pasifik. Dua pulau itu menurut penelitian berasal dari satu pulau saja, yang terbelah akibat letusan gunung berapi di tahun 1452. Letusan itu hebat sekali. 

Selain membelah pulau, cahaya letusannya melesat tinggi ke angkasa. Kala itu, tentara Islam sedang mengepung Konstantinopel. Cahaya letusan gunung yang jauhnya puluhan ribu kilometer itu menerangi kota itu, yang terletak di lambung benua Eropa. Tentara Romawi, begitu melihat cahaya api menerangi kota mereka, mengira kota mereka terbakar. Maka menyerahlah mereka kepada pasukan Islam. Hingga kini kota itu menjadi bagian wilayah Turki dengan nama Istambul. Allahu Akbar. 

Kisah lain, lebih ''kontemporer''. Seorang pemimpin gabungan koperasi ditanya oleh seseorang, apa yang dilakukannya manakala badan usaha yang dipimpinnya dicekam kesulitan besar. Jawabnya, ia perintahkan anak buahnya mengumpulkan seluruh surat permintaan sumbangan, dari mana pun. ''Penuhi semua permohonan itu,'' katanya. Anak buahnya tentu saja protes karena perusahaan sedang sulit sekali, tidak cukup dana untuk itu. 

Tetapi, pemimpin itu tetap tegar, ''pokoknya penuhi!'' Si anak buah terpaksa menurut. Apa yang terjadi? Dalam waktu tidak lama terbukalah jalan-jalan kemudahan bagi gabungan koperasi itu. Allah Akbar, Allahu Akbar. 

''... bagi mereka yang bertakwa Allah akan memberi jalan keluar; dan akan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka ....'' Itulah janji Allah dalam Surat Atthalaq ayat 2 dan 3. Sudah bertakwakah kita? Marilah kita mawas diri, seperti Khalid bin Walid; seperti pemimpin gabungan koperasi itu. 

Rasanya, bangsa ini serta seluruh unit bagiannya yang mengaku Islam perlu melakukannya agar Allah bersedia ''beserta kita'' dan melepas kita dari kesulitan. Tanpa itu, jangan-jangan kita dicap munafik oleh Allah. Nauzubillahi min zalik. (Mustoffa Kamil Ridwan)